Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

15 Maret, 2015

Mengejar impian menjadi Ibu Profesional

Mengejar impian menjadi Ibu Profesional

Beberapa minggu ini, hati dan pikiran saya begitu terasa sibuk. Padahal saya masih berada dirumah dengan dua anak dan satu suami-sama seperti sebelumnya. Namun memang, kritisnya anak-anak, ketidakmampuan saya menghendl semua pekerjaan dalam satu waktu, kekurangan ilmu untuk memuaskan hasrat ingin tahu anak, benyaknya input mengenai berbagai pendidikan parenting yang baik, segala harapan juga tuntutan diri, keadaan yang kadang tak sesuai harapan, membuat pikiran terasa tidak tenang. Jika sudah begini, saya selalu meminta solusi pada Allah yang menciptakan langit, bumi, beserta isinya. Karena memang hanya Allah yang dapat menolong.
Disela-sela keadaan ini, seringkali saya mencari hiburan melalui media online. Semuanya tampak menarik seperti biasanya, namun kala itu, obrolan teman-teman saya di grup WA lebih dari sekedar menarik. Obrolan itu melengkapi segala rasa yang selama ini saya pendam.
Singkat kata, salah satu teman saya yang tinggal di sebuah kota besar, dengan jabatan dan kehidupannya yang mapan, mengambil sebuah keputusan besar, yaitu resign dari tempatnya bekerja, untuk fokus mengurus dan mendidik anak-anaknya. Padahal, selama inipun (meski ia bekerja) ia sudah melakukan tugasnya sebagai ibu yang baik dan bertangung jawab. Namun, sepertinya bagi seseorang yang sudah biasa bertingkah laku profesional, baik saja tidak cukup. Ia memilih untuk melakukan dengan lebih baik -"aku cuma ikhtiar maksimal" seperti yang ia katakan saat banyak orang yang kagum padanya.
Sebenarnya, apa yang ia lakukan bukan hal baru, karena saya yakin, semua ibu bekerja, pasti pernah berfikir untuk berhenti lalu fokus pada anak dan keluarga. Namun, perbedaannya adalah ia sudah beraksi! menyelesaikan langkah satu-persatu, menyusuri setiap tahap dan tantangan berat. Ia membuat semua tampak begitu sederhana meski pada kenyataannya tidak sesederhana itu.
Saya tidak pernah tau apa dan bagaimana proses berfikir yang ia jalani, namun setidaknya ada satu pelajaran yang dapat saya tiru darinya, yaitu melakukan apa yang sudah direncanakan, dengan ikhtiar maksimal.
Lalu, ia menyebutkan impian-impiannya yang membuat saya meleleh.

 
Screenshoot: Tiga impian ibu

Entah kenapa hal itu membuatku tiba-tiba ingin sungkem dan tutup muka karena bergelimang dosa.
Betapa impiannya sama dengan impianku, namun aroma semangatnya lebih menyengat
Betapa banyak yang harus ia tinggalkan untuk berada diposisi ibu profesional. Sedangkan saya, masih perlu meningkatkan profesionalitas.
Ya Allah, Jadikanlah kami sebagai anak, istri dan ibu sholihah yang senantiasa bersyukur atas segala amanah dan karunia yang Engkau berikan. Jagalah dan mampukanlah suami-suami kami untuk mencari rizki yang engkau sebar dimuka bumi ini, agar melalui tangan merekalah kebutuhan kami tercukupi. Karena kami adalah wanita yang ingin kembali kerumah, mendidik anak-anak calon penghuni syurgaMu.

08 Maret, 2015

Membuat dan bermain Ular Tangga bersama anak

inke's picture-HS
Membuat dan bermain Ular Tangga bersama anak
Minggu pertama dibulan Maret 2015, kami membuat permainan ular tangga "anak sholeh, sehat dan pintar". Awalnya, Aa cenna minta saya untuk membelikannya permainan ular tangga di pedagang mainan depan sekolahan. Keinginannya itu, saya jadikan peluang untuk mengajaknya berkarya dan sedikit menanamkan kebaikan melalui ha-hal yang diterapkan dalam permainan.

Dalam semua proses pembuatan dan permainan, selalu libatkan anak, agar ia mendapatkan pengetahuan sekaligus pengalaman yang menyenangkan. Dengan melibatkan anak, mereka akan lebih menghargai karyanya, lebih PD bahwa ia bisa menciptakan sesuatu, lebih antusias dan lebih dekat dengan kita.

How to make it // Bagaimana cara membuat papan permainan ular tangga?

Bahan dan alat:
1. kardus bekas susu kotak
2. kertas origami 4 lembar/kertas lainnya
3. kertas kado/kertas lainnya
4. lem
5. solasi
6. solasi
7. kotak bekas dgn ukuran kecil untuk dadu
8. kertas hvs
9. gunting
10. botol bekas susu kecil/ barang bekas kecil untuk dijadikan orang-orangan

Cara :
1. Papan permainan: gunting dus bekas sesuai contoh, atau sesuai keinginan. Bungkus/tutupi keseluruhan sisi dengan kertas kado dan kertas polos. Buat garis kotak-kotak pada bagian yang polos, lalu bubuhkan angka pada setiap kotak yang sudah dibuat. Isi bagian kotak-kotak tersebut dengan kalimat dan gambar sesuai tema. Misalkan, jika bunda ingin membuat ular tangga  bertemakan kesehatan, maka gambar dan tulisan yang dibubuhkan adalah seputar kesehatan, seperti; olah raga, makanan sehat, sayuran, buah-buahan, menjaga kebersihan, dan lain sebagainya. Tak lupa, cantumkan pula sesuatu yang dilarang/tidak baik dalam tema tersebut untuk mengisi bagian ular yang menurun. misalkan: "membuang sampah sembarangan" mengakibatkan pemain harus turun dalam kotak yang ada gambar ularnya. cantumkan pula kebaikan/prestasi dalam kotak yang ada gambar tangga, sehingga pemain boleh naik tangga ke kotak atas jika ia melakukan hal baik tersebut, misalnya: membaca hadis tentang kebersihan, dll.
2. Dadu: bentuklah kardus kecil tersebut hingga berbentuk dadu/ kubus. Lalu bungkus dengan kertas polos, jangan lupa untuk menutup setiap lipatan dengan solasi agar tidak mudah terbuka. Setelah itu, bubuhkan angka disetiap sudut dadu. bunda bisa memilih angka model apa yang akan dibubuhkan, semua tergantung tujuan bunda mengajarkan/ memperkenalkan angka model apa pada anak. ( angka romawi [I, II, III, IV, V, V], angka arab, angka biasa [1,2,3,4,5,6], atau berupa lingkaran-lingkaran yang biasa dalam dadu [pict])
3. Orang-orangan: Botol bekas susu kemasan kecil dibersihkan, lalu dihias sesuai keinginan dengan menggunakan kertas origami berwarna. atau bisa huga menggunakan mainan/barang bekas yang ada dirumah.

Selamat Bermain, semoga ayah bunda selalu memiliki waktu dan kegiatan yang menyenangkan dengan anak-anak tercinta.

12 Februari, 2015

Apakah saya Ibu Profesional?

"Udah lama nggak main sama umi" kata Aa cenna kepada uminya yg baruu.. saja selesai makan siang disore hari. "Udah lama nggak main sama umi dari hongkong?.. tadi kan sebelum kalian makan, kita main gugulitikan di kasur" jawab umi nggak mau kalah dengan bercanda gaya orang marah. Gimana nggak mau pura-pura marah? Rasanya baruu.. saja badan ini istirahat dengan "me time" berupa sholat ashar, ngaji lalu makan yg di "jamak qoshor", tiba-tiba ditagih untuk tugas selanjutnya (main lagi). Tagihan itu terjadi berulang-ulang diwaktu-waktu yang tak dapat ditentukan. Belum sempat otak membuat rencana pribadi (seperti; melajutkan tugas menjahit, mengerjakan pr bahasa arab, menghayati pelajaran online yg sedang diikuti, ngeblog,  baca-baca, blog teman, nonton berita, atau sekedar menulis dan mengerjakan kerajinan tangan tanpa beban), manusia2 kecil itu sudah menunggu saya untuk menjadi temannya. Seringkali saya lelah dan jenuh, namun mungkin inilah salah satu kriteria "ibu profesional", siap sedia menjadi apa saja yang diinginkan dan dibutuhkan oleh anak-anaknya. Jabatan saya kini memanglah seorang ibu, namun ternyata, profesional dibidang ini rasanya sulit sekali melelahkan cukup menantang. berkali2 perilaku saya jauh dari kata profesional. Entah itu munculnya ketidak profesionalan berupa kemarahan, kemalasan, kesibukan hal lain, dan sejuta alasan lainnya. Huft.. sepertinya perlu ilmu untuk mencapainya.
Beberapa hari kemarin, Aa cenna ceria sekali disekolah, namun syaratnya 1: umi harus melihat semua kegiatan yg dilakukannya. Kalau umi meleng dikit, entah itu  menunduk melihat hp atau berpaling mengobrol dg ibu2 lain,  suaranya langsung nyaring memanggil "umiiii liatin Aa..". Heran juga saya dibuatnya, pasalnya di semester 1 kemarin, dia begitu mandiri tanpa ditunggui, apalagi harus ditatap macam ini. Hari ini, sayapun mengantarnya sekolah, namun saat menungguinya, saya meminta izin dia untuk boleh mengerjakan PR belajar online, sehingga tidak dapat memandanginya saat ia belajar. Singkat kata, Alhamdulillah ia sepakat dan hingga waktunya bubar sekolah ia tetap ceria, uminya pun beres mengerjakan tugas.
Setelah pagi-pagi berkutat dengan ibadah wajib, memasak, mencuci, mengantar anak sekolah, mengerjakan tugas belajar bahasa arab online, memanjat obrolan di grup WA dan BBM, berjualan online, bermain dengan anak-anak, hingga malam memanjat gunung strikaan, rasanya tak sanggup lagi untuk duduk diam didepan komputer, karena kebutuhan berbaring dan memejamkan mata lebih menarik hati.
Begitulah sekelumit alasan kisah dan rutinitas saya sehari-hari, yang dengan sebab itu pulalah, hampir sebulan saya tidak posting tulisan di blog tercinta ini. Kini, rasanya saya mulai bisa membuat ritme kegiatan, hingga akhirnya jari-jari ini kembali menyapa keyboard laptop yang hampir lumutan (lebay dikit)
Oiya, beberapa hari kebelakang, saya menemukan dimasukkan sebuah grup WA IIP -Bandung (Institut Ibu profesional) oleh seorang teman. Dan disinilah salah satu tempat saya belajar untuk menjadi Ibu profesional seperti yang sudah saya bicarakan diatas. Berhubung grup ini baru saya ikuti, jadi saya belum bisa bercerita banyak sekarang. So, tunggu postingan saya tentang "IIP" di bulan-bulan berikutnya ya..

17 Januari, 2015

Ketika anak Mogok sekolah, mari observasi

Sebulan belakangan ini, cenna (Anak saya yg kini berumur 5 tahun) tampak malas dan murung jika diajak ke sekolah. Saya belum tau apa sebenarnya yang membuat cenna malas pergi sekolah, padahal saya memasukannya ke TK A sekitar 5 bulan yang lalu , atas keinginannya sendiri. Awalnya, saya berencana untuk tidak menyekolahkannya di sekolah umum, dan akan ber-homeschooling saja. Namun saat ia merasa kesepian karena teman-teman disekitar rumah pergi sekolah, saat itulah ia menginginkan hal yang sama, yaitu kegiatan sekolah dan banyak teman bermain.
Kala itu ada dua pilihan sekolah, yang pertama adalah TK murah dekat rumah, dan yang kedua adalah TK mahal tempat saya diminta menjadi guru. Kedua pilihan tersebut sama-sama memiliki kelebihan. Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya kami sepakat untuk tetap memasukkan cenna ke TK dekat rumah, agar ia tidak kelelahan dijalan. Sayapun tak mengambil kesempatan menjadi guru TK, dan masih memilih untuk menjadi ibu yang bisa memantau anak-anak 24 jam.
1-4 bulan, cenna menjalani sekolah dengan cukup semangat. Ia hanya saya antar jam 9 lalu dijemput jam 11. Namun, di bulan ke 5, ia banyak mengajukan syarat dan alasan untuk tidak sekolah. Awalnya ia hanya malas setiap hari senin, karena materinya selalu mewarnai/ menggambar. Proses menggambarpun seolah menjadi sesuatu yang menakutkan. Ia menangis sesegukan dan hanya mau mengerjakan setelah dibujuk dan ditemani oleh saya disebelah kursinya. Kala itu, saya langsung menyimpulkan bahwa ia tak suka menggambar, sehingga sy tidak memaksakan jika ia tak mau melakukannya. Namun seminggu kemudian, ia mulai malas setiap waktunya sekolah (senin, rabu, jumat). Saya mulai ragu, jangan-jangan ada hal lain yang membuatnya tidak nyaman di sekolah. Setelah diajak bercerita, muncullah satu alasan baru, yaitu ia takut pada salah satu murid, karena si murid itu pernah memukul dan mengganggunya. Maka, sejak itu saya akhirnya selalu menemaninya didalam kelas. Tadinya saya akan membiarkannya tidak sekolah, daripada sekolah namun tidak nyaman dan tidak happy. Namun, saya tiba-tiba berfikir untuk observasi sekaligus melatih cenna agar mau belajar menghadapi ketakutannya dengan tetap didampingi.
Satu minggu mendampingi didalam kelas, semakin yakinlah saya untuk menghentikannya sekolah. Bahkan ia meminta "pingin umi aja yg jadi gurunya". Saya tersentuh namun tidak serta merta mengabulkan permintaannya. Saya perlu yakin dulu apa yang sebenarnya ia rasakan, inginkan dan butuhkan. Di minggu selanjutnya, tiba-tiba ibu gurunya melakukan percobaan ilmiah dan lomba-lomba sederhana. Wajah cenna langsung sumringah, ia lompat kegirangan, iapun berkata "umi, aku mau sekolah lagi nanti hari senin. Kan ada percobaan lagi..". Dari observasi sementara, ternyata anakku ini sedang bosan sekolah karena materinya kurang variatif, ia butuh sesuatu yang baru dan segar. Tapi, apakah hanya itu sebabnya? Sayapun harus menunggu esok senin, untuk membuktikan semua dugaan..
#dampingi dengan cinta, mencoba untuk sabar

11 November, 2014

Mengajarkan Batita kita untuk ke toilet "Toilet Learning"

Bicara mengenai toilet training (TT) atau toilet learning (TL) alias mengajarkan anak untuk bak/bab ke kamar mandi, membuat saya begitu rindu orang tua saya. Bagaimana tidak? membuat batita kita mandiri untuk bak/bab ke KMD itu ternyata bukan hal yang instant. Butuh kesabaran, konsisten, kadang ketegasan sekaligus kelembutan, juga perlu menjadi motivator untuk menjalani proses ini. Alhamdulillah kita yang sekarang sudah tidak ngompol lagi, sudah bisa menjadi orang tua untuk anak yang dicintai meskipun masih suka ngompol. Harus kita sadari, bahwa dulunya kitapun begitu, namun orangtua kita entah bagaimana caranya dan kapan waktunya, ternyata sudah berhasil membuat kita mandiri. Sudahkah kita berterimakasih untuk hal ini kepada orangtua kita?? bagaimana jadinya jika orang tua kita begitu malasnya atau cuek berselimut kalimat "ah, biarin aja kasian dia disuruh bolak-balik ke KMD, nanti juga bisa sendiri", mungkin kita secara fisik dan psikis tidak akan terlatih untuk menahan pipis untuk berlari ke kamar mandi hingga sekarang.
Nah, jika kita sayang dengan yang sebenar-benarnya sayang, maka kita perlu melatih dengan cinta anak-anak yang kita harapkan menjadi orang yang mandiri dan beretika. Lalu, kapan kita perlu mulai memberikan pelatihan ke kamar mandi?. Menurut pengalaman saya melatih 2 anak,  TL bisa dimulai saat usia anak 18 bulan yang diharapkan pada usia 24 bulan anak sudah tidak ngompol di celana lagi. Saya akui, memang ada beberapa teman saya yang anaknya sudah bisa bak/bab ke kmd diusia setahun lebih, namun juga ada banyak teman yang anak-anaknya baru bisa mandiri ke toilet setelah usia 3 tahun. Banyak artikel parenting dari barat yang menjudge jika tidak bisa mandiri diusia sekian maka nantinya akan terus ngompol di sekolah, dan seterusnya. bisa jadi itu benar, namun jangan sampai membuat ibu jadi putus asa dan bernegatif thinking. Karena pikiran yang negatif, bisa mengarahkan kita ke arah yang negatif pula.
Baca bagian ini saja jika ibu tidak memiliki banyak waktu:
Mari ajarkan anak kita untuk BAK dan BAB ke kamar mandi  mulai usia 18 bulan (jika sudah terlambatpun bisa tetap diterapkan, selama masih balita). Caranya:
1. Siapkan mental ibu, niatkan untuk kebaikan anak. Siap dengan segala konsekuensi. Bismillahirohmanirrohim
2. Ajak anak bicara "de, mulai sekarang ibu akan ajak ade ke KMD setiap 1-2 jam sekali ya, kita coba pipis ke sini (tunjuk toilet). Dede kan sudah mulai besar, jadi harus mulai belajar ke KMD pipis dan ee' nya. Biar bersih pantat, kemaluan dan celananya... jadi ibu kalau gendong dede dan mau sholat nggak harus ganti baju, karena dede bersih dan suci badannya. (ini hanya contoh kalimat, untuk isinya bisa disesuaikan kebutuhan masing-masing, karena hanya ibu yang mengerti apa yang terpenting untuk sang anak.
3. Lakukan tatur tiap 1-2 jam sekali. Buka celananya di luar kamar mandi, sambil terus diajak bicara, kenapa harus pipis dan ee' di sini (misal, ayo coba pipis yu.. biar nggak ngompol. Kalau ngompol nanti lantainya basah dan kotor kemana-mana, jijik deh). Catatan: anak laki-laki dan perempuan baiknya jongkok pada proses BAB dan BAK)
4. Sebaiknya jika memutuskan untuk melatih TL, popok harus dilepas sempurna sejak pagi hingga malam dan kurangi bepergian jauh yang mengharuskan menggunakan popok. mengapa? karena menggunakan popok saat anak TL akan membuat anak bingung. Disatu sisi ibu bilang harus pipis di KMD, tapi disisi lain ibu membiarkan anak pipis di popok, bahkan berkata "nggak apa-apa pipis aja di popok". (saya juga pernah mengalami ini saat terpaksa diperjalanan, dan saya sadari itu menghambat TL). Perlu dicatat, anak Batita baru mengerti satu tugas saja, belum mengerti tugas double: 1. Kalau nggak pake popok, pipis di kmd. 2. Kalau pake popok boleh pipis di popok. Selain itu, popok dalam proses TL akan membuat ibu jadi malas (ini juga berdasarkan pengalaman)
5. Lakukan semuanya dengan sabar, lembut dan terkadang perlu ketegasan.
6. Semoga berhasil
Jika Terlambat memulai dan belum berhasil:
1. Tetap positif thinking
2. Tanya kenapa anak tidak mau BAK/BAB di kmd (mungkin tidak nyaman di kmd, dingin, basah, takut sendirian, jijik, pegal,dll)
3. Perhatikan tanda-tandanya
4. Beri solusi (jika disebabkan dingin dan basah, beri sandal lucu di kmd. jika takut sendirian, temani dan terus ajak bicara, jika pegal beri solusi apapun yang terbaik)
5. Tetap semangat, dan jangan lupa terus memotivasi, memberi asosiasi, cerita tentang kuman, suci dari hadas, malu jika ngompol, dll
6. Jangan lupa untuk memuji sekecil apapun prestasi dan perkembangan anak.
 (sebenarnya tulisan ini belum sempurna karena saya buru-buru akan pergi, namun ada teman yang membutuhkan jawaban segera, jadi saya posting dulu, mungkin nanti di lanjutkan. mungkin lho ya.. :) )
Sekian share pengalaman saya, maaf jika ada yang kurang berkenan.

10 November, 2014

Ketika anak kita berkata kasar dan tabu

Pada suatu sore, kami (saya dan suami) dikejutkan oleh satu kata yang dilontarkan anak kami yang berusia hampir 5 tahun (panggilannya Aa). Kala itu Aa dan Ade (2,5thn) sedang bermain bola di dalam rumah, setelah kelelahan bermain di luar bersama anak tetangga yang usianya kira-kira 7 tahun. Ditengah kekompakan ade dan aa, tiba-tiba sang Aa berkata "sini ko**ol". Kami kaget bukan kepalang, karena kata itu adalah sebuah kata dalam bahasa sunda yang artinya (maaf) alat kelamin pria, dan itu sangat tidak sopan untuk dikatakan tanpa kepentingan.Saya yang kala itu sedang memasak di dapur, segera menghentikan sejenak untuk mengurus masalah ini.
"Aa, kenapa bilang ko**ol?"
"nggak apa-apa mi" jawabnya dengan polos
"nggak baik ya bilang gitu! Aa ngikutin siapa?"
"ngikutin a'bb (ia menyebut nama anak tetangga), kenapa nggak boleh mi?"
"emang ko**ol artinya apa?" saya bertanya
"bola" jawabnya santai
"sayang, ko**ol itu bukan bola, itu bahasa sunda yang artinya tititnya laki-laki kaya punya aa ini (sambil menunjuk kepunyaannya-ini penting karena usianya masih berada di tahap kongkrit operasional). Nah, kalau kata-kata yang kaya gitu nggak boleh di sebut sembarangan, nggak baik, nggak sopan. Aa ngerti nggak?"
Ia mengangguk, namun seperti masih ada sedikit keraguan.
Saya mencoba kembali menjelaskan," Aa sering denger ya A'bb dan temennya suka bilang "Anjing" padahal nggak ada anjing disini?"
"iya" katanya
"nah, contohnya kata Anjing dan Ko**ol itu kan bukan nama orang, bukan nama temen Aa, jadi nggak boleh disebut sembarangan, nggak baik disebut keras-keras, nggak sopan!. Mendingan juga aa bilang namanya aja, misalnya A'bb atau A'kiki atau nama temen Aa yang lainnya, masa orang dipanggilnya "anjing" kan salah ya?" "iya mi"
" Kalau bola ya bilangnya bola aja, kalau aa belum ngerti, tanya ke umi dulu ya.?"
"iya mi"
"pinter, sok sana main bola lagi sama ade" saya mengakhiri sambil mengelus kepalanya.
credit from google image

Sesuai sekali dengan dugaan saya, bahwa banyak anak-anak yang menyebutkan kata-kata kasar itu bukan karena mereka "nakal" tapi karena mereka ikut-ikutan teman sepermainannya tanpa tau arti yang sebenarnya. Dan, Beberapa orang tua lebih memilih marah dan melarang, tanpa bertanya juga tanpa memberi penjelasan yang membuat anak mengerti kenapa mereka tidak boleh melakukannya. Sayapun beruntung karena anak saya bertanya "kenapa nggak boleh bilang kata itu". Karena, disaat hati ingin marah, kita sering lupa untuk menjelaskan hal yang penting. Ketika rasa ingin tau anak belum terpenuhi, maka ia akan terus mencari dari berbagai sumber, mungkin dari sumber yang benar, namun tidak menutup kemungkinan ia mendapat penjelasan dari sumber tang salah. Ini tugas kita sebagai orangtua yang memegang amanah dari Allah. Kita tidak ingin disalahkan untuk suatu hal yang tidak kita tau, maka jangan salahkan anak, karena merekapun tidak/belum tau
Masa kanak-kanak, terlebih lagi usia balita, mereka baru mengerti sesuatu yang real dan jelas. Ibarat kertas kosong, mereka belum banyak mengetahui arti dari kosa kata baik/buruk. Orang tualah yang perlu membimbingnya. Dan ketika anak melakukan hal yang kita anggap salah, hal pertama yang perlu dilakukan adalah terik nafas dalam-dalam, duduk, lalu bertanya. Ya, bertanyalah, bukan menginterogasi. Sebagaimana kita (orang dewasa) yang tidak suka jika ada orang yang tiba-tiba mengintrogasi dengan nada menyebalkan, begitu pula anak. Bisa jadi ia akan melawan dan marah jika sikap kita tidak membuatnya nyaman.Yang lebih penting lagi, kita tau bahwa mereka adalah calon penerus keturunan kita, yang kita harapkan menjadi orang baik, sholeh, pintar dan menyenangkan, maka kitapun perlu memberikan bekal yang tepat untuk membentuknya.
Karena mereka baru mengerti mengenai sesuatu yang real dan atau kongkrit, maka kitapun harus menjelaskan dengan kongkrit menurut bahasa yang mereka mengerti. karena nggak mungkin kan kita bilang "Nak, jangan sebut kata itu! itu tidak sesuai dengan norma-norma ketimuran", itu hanya akan menambah daftar panjang kebingungan mereka. Cepat atau lambat, mereka akan mengulanginya dan sekarang atau nanti, kita pertu menjelaskannya. Mau sekarang atau nanti jika sudah terlanjur dan mengakar?
Ini pengalaman saya, sekedar ingin berbagi dan sayapun siap menerima masukan jika ada teman-teman sesama orang tua yang memiliki solusi/ jawaban lebih baik bagi segala pertanyaan anak kita. Maaf jika ada kata-kata kasar disebut dalam artikel ini, saya merasa perlu menyebutkannya dengan jelas agar tidak blurr dan menyebabkan salah mengerti.
Semoga kita dapat menjadi sahabat yang menyenangkan dan menjadi orangtua terbaik bagi anak-anak kita.

23 September, 2013

Cara merubah perilaku anak yang pemarah.


Alhamdulillah, kita diberikan kepercayaan untuk mendidik dan menikmati peran sebagai orang tua dari anak-anak kita. Dalam menjalankan peran ini terkadang kita melakukan kesalahan dalam memberi contoh ataupun memperlakukan anak, hingga membuat anak menjadi memiliki sifat pemarah. Kita tersadar akan kesalahan tersebut setelah anak beranjak besar dan menunjukkan sikap pemarah pada orangtua/adik/teman.
Lalu pertanyaannya adalah, apakah bisa, merubah sikap anak pemarah, menjadi baik? Jawabannya, bisa-pasti bisa- harus bisa, insyaallah.
Hal terpenting yang harus kita tanamkan sebagai orangtua adalah keyakinan dan usaha maksimal.
Berikut ini cara yg dpt dilakukan:
1. Tanya mengapa dia marah minta dia mengungkapkan perasaannya. Hal ini akan sedikit mengurangi kemarahannya, karena dia merasa ortunya peduli, dan tekanan di pikirannya berkurang.
2. Beri solusi dengan bahasanya. Jika dia marah dan kesal, apa yg harus dan boleh dia lakukan. Misal, 'klo adeknya galak/nggak baik/ rebut mainan kakak, tinggalin aja adiknya, jangan dideketin dulu, nanti klo kakak udah nggak marah, dan adiknya udah baik lagi, baru main bareng lagi'. Atau kalimat solusi lainnya, yg tepat dg masalahnya, ortu pasti lebih tau.
3. Jika cara diatas tdk mempan, Sesekali coba abaikan kemarahan anak, saat anak marah, kita alihkan dg membahas hal lain misalnya: 'ibu mau main petak umpet aah.. Atau jajan ke warung aah'. Terkadang, kemarahan anak itu adalah cara anak mencari perhatian. Jika ketika ia marah lalu ortu memberikan apa yg diinginkannya, maka bisa jdi kelak anak akan mengulanginya. Karena menganggap tangis dan kemarahannya itu mampu membuat ortunya memberi apa yg diinginkannya. "anak adalah pembelajar yg baik"
4. Ingatlah selalu untuk tidak memberi contoh menjadi org pemarah. Jika ortu bertengkar, sedapat mungkin tdk dihadapan anak. bisa jadi saat orang tua bertengkar, anak melihat dan seperti tidak peduli karena kita menganggap wajahnya tak menunjukkan ekspresi tertentu. Namun perlu diingat bahwa anak menyimpan dalam ingatannya. "anak peniru yang baik".

Semoga bermanfaat (IM)